Minggu, 03 Desember 2017

Keterkaitan antara Manusia, Cinta, Kasih, dan Penderitaan


Keterkaitan antara Manusia, Cinta, Kasih, dan Penderitaan
Ilmu Budaya Dasar





BAB I
PENDAHULUAN

1.1    LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan, manusia tidak pernah lepas dari hubungan antar sesama makhluk-Nya. Sebagai esensinya manusia merupakan makhluk sosial. Manusia saling dibutuhkan dan membutuhkan makhluk yang lain dalam kehidupannya. Hubungan saling ketergantungan ini tentu disebabkan dan menyebabkan banyak hal, beberapa diantaranya adalah manusia, cinta, kasih, dan penderitaan.
Cinta merupakan pengalaman yang sangat menarik dan pernah dialami dalam hidup. Sangat disesali, pada umumnya kita masih bertanya-tanya apakah cinta itu yang sebenarnya. Kebingungan mereka semakin bertambah ketika dunia perfilman memperkenalkan arti cinta yang salah dimana penekanan akan cinta selalu di titik beratkan pada perasaan dan cerita romantika dan terkadang dalam kehidupan masyarakat cinta di titik beratkan pada seksualitas.
Kendati pun demikian, hampir setiap orang tidak pernah berpikir tentang apa dan bagaimana cinta itu. Padahal berpikir tentang apa dan bagaimana cinta itu,  cinta dapat diibaratkan sebagai suatu seni yang sebagaimana bentuk seni lainnya sangat memerlukan pengetahuan dan latihan untuk bisa memahaminya.
Begitupun dengan kasih. Sering kali kita terkecoh bahkan sulit untuk membedakan antara cinta dan kasih itu sendiri.
Setiap manusia yang hidup pasti pernah merasakan penderitaan. Hidup tidaklah sesuai apa yang telah kita rencanakan. Tuhan memiliki skenario tersendiri untuk mengukur sebarapa kuat iman setiap insan manusia kepada-Nya.
Manusia sebagai makhluk yang berfikir dibekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal, memahami dan menjelaskan hal yang bersifat alamiah, sosial dan budaya. Manusia juga berusaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dari dorongan rasa ingin tahu dan usaha untuk memahami masalah menyebabkan manusia dapat mengumpulkan berbagai  pengetahuan.
Kurangnya pengetahuan setiap orang mengenai cinta, kasih, dan penderitaan, membuat penulis ingin menjelaskan hal tersebut yang sangat penting untuk diketahui secara seksama. Karena hal-hal tersebut sangat berkaitan dalam kehidupan seseorang dalam bermasyarakat. Dan apabila orang tidak mengetahui atau memahami hal tersebut maka akan menjadi sebuah kesenjangan yang nyata dalam kehidupan seseorang saat mengambil suatu keputusan.

1.2     RUMUSAN MASALAH
1.2.1    Bagaimana hubungan antara Manusia dengan Cinta ?
1.2.2    Bagaimana hubungan antara Manusai dengan Kasih?
1.2.3    Bagaimana Mewujudkan Cinta dan Kasih?
1.2.4    Bagaimana hubungan antara Manusia dengan Penderitaan?

1.3     TUJUAN PENULISAN
1.3.1    Memahami makna Cinta yang sebenarnya
1.3.2    Memahami makna Kasih
1.3.3    Mengetahui hubungan Manusia, Cinta, dan kasih
1.3.4    Memahami makna Menderitaan
1.2.5    Mengetahui hubungan Manusia dan Penderitaan
1.2.6    Untuk landasan dalam mengambil keputusan dalam bermasyarakat



BAB II
PEMBAHASAN

2.1      Manusia dengan Cinta dan Kasih
Cinta, pengertiannya sama dengan kasih sayang sehingga apabila seseorang mencintai orang lain, artinya orang tersebut berperasaan kasih sayang terhadap suatu hal. Cinta memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintah-Nya, dan berpegang teguh pada syariat-Nya.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan J.S. Purwodarminta, cinta adalah rasa sangat suka atau rasa sayang terhadap suatu hal, ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta atau menaruh belas kasihan tentang sesuatu. Dengan demikian, arti cinta dan kasih itu hampir sama sehingga kata kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa cinta. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.
Walaupun cinta dan kasih mengandung arti yang hampir sama, antara keduanya terdapat perbedaan, yaitu cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam, sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah pada orang atau yang dicintai. Dengan kata lain, bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.
1.       Erich Fromm (1983: 24-27) dalam bukunya Seni Mencintai menyebutkan bahwa cinta itu terutama memberi, bukan menerima, dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Yang paling penting dalam memberi adalah hal-hal yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Cinta selalu menyertakan unsur - unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian, dan pengenalan.
2.       Sarlito W. Sarwono mengemukakan bahwa cinta itu memiliki tiga unsur, yaitu ketertarikan, keintiman, dan kemesraan. Keterikatan adalah perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas hanya untuk dia. Keintiman yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukan bahwa antara Anda dan dia sudah tidak ada jarak lagi sehingga panggilan-panggilan formal seperti Bapak, Ibu, Saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan seperti sayang. Sedangkan kemesraan adalah adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen jika jauh dan lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang. Ketiga unsur cinta tersebut sama kuatnya, jika salah satu unsur cinta itu tidak ada maka cinta itu tidak sempurna atau dapat disebut bukan cinta.

Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk, mulai dari seseorang yang mencintai dirinya, istrinya, anaknya, hartanya dan Tuhannya. Bentuk cinta ini melekat pada diri manusia yang kadarnya bisa berubah menurut situasi dan kondisi yang mempengaruhinya.
Cinta dapat tak terduga muncul dan hilang begitu saja, atau terus tumbuh seperti cintanya orang tua terhadap anaknya sejak dilahirkan. Cinta tidak mudah diterangkan dan diilustrasikan dengan kata-kata. Ia memiliki daya luar biasa yang melekat dengan kuat pada diri manusia. Cinta dapat dilukiskan dengan memberi, bukan meminta sebagai aktualisasi cintanya terhadap orang lain. Berbagai bentuk cinta dapat dijabarkan sebagai berikut:

a.       Cinta diri
       Secara naluri manusia mencintai dirinya sendiri. Sebaliknya, manusia membenci segala sesuatu yang mengganggu dirinya. Di dalam Al –Qur’an telah mengungkapkan cinta alamiah manusia  terhadap dirinya sendiri ini, kecenderungannya untuk  menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindari dari segala sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya, melalui ucapan Nabi Muhammad SAW, bahwa seandainya beliau mengetahui hal-hal gaib, tentu beliau akan memperbanyak hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan.
       “Diantara gejala yang menunjukkan kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri ialah kecintaannya yang sangat terhadap harta, yang dapat merealisasikan semua keinginannya dan memudahkan baginya segala sarana untuk mencapai kesenangan dan kemewahan hidup.” (QS,al-Adiyat, 100:8)
       “Diantara gejala lain yang menunjukkan kecintaan manusia pada dirinya sendiri ialah permohonannya yang terus menerus agar dikaruniai harta, kesehatan, dan berbagai kebaikan dan kenikmatan hidup lainnya. Dan apabila tertimpa bencana, keburukan, atau kemiskinan, ia merasa putus asa dan ia mengira tidak akan bisa memperoleh karunia lagi,”(QS,Fushilat, 41:49)
       Namun hendaknya cinta manusia pada dirinya jangan terlalu berlebih-lebihan dan melewati batas. Cinta kepada diri sendiri perlu diimbangi pula dengan cinta terhadap orang lain untuk berbuat baik. Inilah yang dimaksud dengan cinta diri yang ideal.
b.      Cinta kepada sesama manusia
       Motivasi seseorang mencintai sesama manusia, menurut presepsi sosiologis disebabkan karena manusia itu merupakan makhluk sosial. Menurut presepsi agama, mencintai sesama manusia itu merupakan kewajiban. Demikian pula adanya perbedaan warna kulit, ras, etnis, atau perbedaan fisik manusia. Bahkan dalam agama, sesama manusia dianggap masih saudara (saudara seiman). Dalam pepatah  sehari-hari sering dikatakan “tak kenal maka tak sayang”, makna kenal di sini dilanjutkan dengan saling menyayangi dan mencintai antar sesama umat manusia. Al-Qur’an juga menyeru kepada orang-orang yang beriman agar saling mencintai seperti cinta mereka pada diri mereka sendiri. Dalam seruan itu sesungguhnya terkandung pengarahan kepada mukmin agar tidak berlebih-lebihan dalam mencintai diri sendiri
c.       Cinta seksual
       Cinta erat kaitannya dengan dorongan seksual, cinta seksual merupakan bagian dari naluri manusia yang dapat melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerja sama antara suami dan istri. Seks merupakan faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga.
Dan diantara tanda-tanda kekuasanNya ialah Dia yang menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung, dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir.” (QS,Ar-Rum, 30:12)
Dorongan seksual melakukan suatu fungsi penting yaitu melahirkan keturunan demi kelangsungan jenis.
d.    Cinta Keibuan
Kasih sayang yang bersumber dari cinta keibuan, yang paling asli dan yang terdapat pada diri seorang ibu terhadap anaknya sendiri. Ibu dan anak terjalin suatu ikatan fisiologi. Seorang ibu akan memelihara anaknya dengan hati-hati penuh kasih sayang dan naluri alami seorang ibu.
e.      Cinta kebapakan
         Cinta ibu kepada anaknya atau dorongan keibuan. Dorongan kebapakan tidak seperti dorongan keibuan, tetapi dorongan psikis. Hal ini terlihat dalam cinta seorang ayah terhadap anaknya karena ia merupakan sumber kesenangan dan kegembiraan dalam hidupnya, sumber kekuatan dan kebanggaan,dan merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapak dalam kehidupan. Cinta kebapakan dalam Al-Qur’an diisyaratkan dalam kisah Nabi Nuh as. Betapa cintanya ia kepada anaknya, tampak jelas ketika ia memanggilnya dengan penuh rasa cinta,kasih sayang, belas kasihan, untuk naik perahu agar tidak tenggelam ditelan ombak :
            “…Dan Nuh memanggil anaknya – sedang anak itu berada di tempat yang jauh    terpencil, “Hai ..anakku naiklah (kekapal) bersama kami dan janganlah kamu berada           bersama-sama orang-orang yang kafir.” (QS, Yusuf, 12:84)
Biasanya cinta kebapakan nampak dalam perhatian seorang bapak kepada anak-anaknya, asuhan, nasehat, dan pengarahan yang diberikan, demi kebaikan dan kepentingan mereka sendiri.
f.       Cinta kepada Allah SWT
       Puncak cinta manusia yang paling bening, jernih dan spiritual ialah cinta dan kerinduannya kepada Allah. Tidak hanya sholat, pujian dan doanya ditujukan kepada Allah, tetapi semua tindakan dan tingkah lakunya ditujukan kepada Allah dengan mengharapkan penerimaan ridla-Nya. Cinta seorang mukmin kepada Allah akan membuat seseorang menjadi mencintai sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah, dan seluruh alam semesta. Hal ini terjadi karena semua yang wujud dipandang sebagai manifestasi Tuhannya.
            “Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar)mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah         mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah maha pengampun lagi maha      penyayang” (QS Ali Imran, 3:31)
       Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan membuat cinta itu menjasi kekuatan pendorong yang mengarahkannya dalam kehidupannya dan menundukkan semua bentuk kecintaan lainnya. Cinta ini pun juga akan membuatnya menjadi seorang yang cinta pada sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah dan seluruh alam semesta.
g.       Cinta kepada Rasul (Nabi Muhammad SAW)
       Cinta kepada rasul merupakan peringkat kedua setelah cinta kepada Allah SWT. Hal ini disebabkan karena rasul bagi kaum muslimin merupakan contoh ideal yang sempurna baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya dan juga merupakan suri teladan yang mengajarkan Al-Qur’an dan kebijaksanaan. Nabi Muhammad SAW telah menanggung derita dan berjuang dengan penuh tantangan sampai tegaknya agama Islam.
h.      Cinta kepada orang tua
       Cinta kepada kedua orangtua dalam ajaran agama Islam sangat mendasar, menentukan ridha tidaknya Tuhan kepada kita sebagai anaknya.

2.2 Mewujudkan Cinta Kasih
Untuk dapat mewujudkan cinta dan kasih dalam kehidupan dengan tentram damai dan bahagia dapat dengan cara :
a.   Cara mewujudkan cinta pada diri sendiri
Dapat dilakukan dengan menjaga dirinya sendiri, sehingga kebutuhan jasmani dan rohani dirinya sendiri terpenuhi secara wajar. Contohnya mandi, menyisir rambut, memaka wangi- wangian, mengenakan baju yang sopan tidak melanggar adat atau norma yang ada.
b.   Cara mewujudkan cinta pada sesama manusia
Dapat dilakukan dengan perbuatan yang bersifat sosial dan kemanusian. Contohnya saling tolong menolong, kerja bakti, saling tepo seliro, Jean Henry Dunant ( 1882-1910) seorang bankir dan penulis berkebangsaan Swiss yang atas suka relanya menolong setiap orang yang menderita luka-luka dalam pertempuran Solferino (1859) mendirikan Palang Merah International (1863).
c.   Cara mewujudkan cinta seksual
Dapat dilakukan apabila dilandasi atas dasar cinta kasih yang bertanggung jawab dan tidak melanggar adat atau norma yang ada. Contohnya cinta erotis seorang lelaki terhadap perempuan yang di sudah di ikat pernikahan yang di dasari percintaan.
d.   Cara mewujudkan cinta keibuan
Dapat dilakukan dengan dilandasi kasih sayang ibu yang tak terhingga terhadap anaknya dari sejak dikandung, melahirkan, dan mengurus sampai menikahkan dengan tanpa pamrih sedikitpun dan doanya yang selalu menginginkan dan melihat anaknya bahagia serta di jauhkan dari segala kesulitan.
e.    Cara mewujudkan cinta kebapakan
Dapat dilakukan dengan dilandasi rasa menghormati, kasih sayang kepada anaknya dengan cara mencari nafkah, memperhatikan perkembangan anak, mengetahui apa yang diperlukan oleh anaknya.
f.     Cara mewujudkan cinta kepada Allah
Dapat dilakukan dengan dilandasi cinta yang teramat sangat dan meniadakan Tuhan selain Allah dengan beraqidah yang kokoh dan bertaqwa atau menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan yang sudah di tentukan Nya.
g.   Cara mewujudkan cinta kepada Rasul
Dapat dilandasi dengan mencontoh suri teladan yang baik yang ada pada diri rasul yaitu sidiq, tablig, amanah, dan fatonah yang di laksanakan setiap saat selama masih diberi kehidupan.
h.    Cara mewujudkan cinta kepada orang tua

2.3 Manusia dengan Penderitaan

      2.3.1 Pengertian penderitaan
                   Kata penderitaan berasal dari kata “derita” (dhra dalam bahasa Sansekerta), artinya: menahan atau menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan, baik itu secara lahir maupun batin. Atau dapat dikatakan sebagai lawan kata dari kesenangan. Penderitaan tidak pernah dipisahkan dari kehidupan manusia yang dapat berupa keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kepanasan,kelelahan dan lain-lain. Penderitaan ini bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja.
a.       Penderitaan sebagai fenomena universal
       Penderitaan sebagai fenomena universal tidak mengenal ruang dan waktu, dapat terjadi pada kehidupan masa lalu, kini, dan masa yang akan datang. Selain itu juga dapat menimpa siapapun.
b.      Penderitaan sebagai anak penguasaan
       Penderitaan yang terjadi tidak jarang justru disebabkan oleh faktor manusia sendiri. Penderitaan manusia yang satu tidak bisa dilepaskan dari ulah manusia lainnya. Ini semua sulit terbantahkan, karena penderitaan itu pada dasarnya merupakan anak penguasaan.

Berikut ini hal-hal yang berkaitan dengan penderitaan:

a.      Siksaan
       Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbulah penderitaan. Siksaan yang sifatnya psikis bisa berupa : kebimbangan, kesepian, ketakutan. Ketakutan yang berlebih-lebihan yang tidak pada tempatnya disebut phobia.banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan antara lain : claustrophobia dan agoraphobia, gamang, ketakutan, kesakitan, kegagalan.

b.    Rasa Sakit
       Rasa sakit adalah rasa yang tidak menyenangkan secara mental,fisik, dan emosi serta mengingatkan kepada luka bagi si penderita. Penderitaan yang berupa rasa sakit dan siksaan merupakan satu rangkaian peristiwa yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Karena adanya siksaan dan rasa sakit membuat orang menjadi menderita. Dalam pengalaman sehari-hari manusia dikenal adanya tiga macam rasa sakit, yaitu sakit hati, syaraf atau jiwa, dan sakit fisik.

c.    Kekalutan Mental
       Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar.

d.    Neraka
       Jika manusia mengingat akan dosa maka terbayanglah neraka, sehingga terlintas dalam alam pikiran manusia adanya siksaan, rasa sakit, dan penderitaan yang hebat. Hal ini menandakan bahwa antara neraka, siksaan, rasa sakit, dan penderitaan mempunyai hubungan sebab-akibat yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Manusia masuk neraka karena dosa, maka jika berbicara tentang dosa berarti berkaitan juga dengan kesalahan.


2.3.2 Penyebab munculnya penderitaan
            Penderitaan dapat muncul karena ketidakharmonisan antara elemen satu dengan yang lainnya. Dalam kasus sehari-hari, misalkan saja dalam hubungan dalam bermasyarakat, ada kalanya didalam bermasyarakat terdapat perbedaan pendapat yang dapat menimbulkan perselisihan diantara satu dengan yang lainnya, hal ini bisa saja mengakibatkan timbulnya rasa dengki, marah, bahkan saling menuduh atau menjelek-jelekan. dari sinilah penderitaan muncul karena perbuatan saling tidak menyukai tersebut. dalam hal ini, penderitaan yang dialami adalah penderitaan secara batin karena terdapat rasa sakit hati apabila ada seseorang yang menjelek-jelekan bahkan rasa itu bisa saja semakin sakit apabila sudah terjadi pertengkaran yang membuat hubungan didalam masyarakat sudah tidak ada rasa nyaman dan aman.

2.3.3 Hubungan manusia dangan penderitaan
            Allah adalah Sang Pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dialah yang maha kuasa atas segala yang ada isi jagad raya ini. Allah menciptakan mahluk yang bernyawa dan tak bernyawa. Allah tetap kekal dan tak pernah terikat dengan penderitaan.
            Mahluk bernyawa memiliki sifat ingin tepenuhi segala hasrat dan keinginannya. Manusia selalu membutuhkan pembaharuan dalam dirinya, seperti memerlukan bahan pangan untuk kelangsungan hidup, membutuh air dan udara, membutuhkan teman, mebutuhkan pasangan, dan membutuhkan penyegaran rohani berupa ketenangan. Apabila tidak terpenuhi, maka manusia akan mengalami penderitaan. Dan bila sengaja tidak di penuhi manusia telah melakukan penganiayaan. Namun bila hasrat menjadi landasan untuk selalu dipenuhi akan membawa manusia pada kesesatan yang berujung pada penderitaan kekal di akhirat.
            Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling mulia namun manusia tidak dapat berdiri sendiri secara mutlak. Manusia perlu menjaga dirinya dan selalu mengharapkan perlindungan kepada penciptanya. Manusia kadang kala mengalami kesulitan dalam penghidupanya, dan terkadang sakit jasmaninya akibat tidak dapat memenuhi penghidupannya.
            Manusia memerlukan rasa aman agar terhidar dari penyiksaan. Karena bila tidak dapat memenuhi rasa aman manusia akan mengalami rasa sakit. Manusia selau berusaha memahami kehendak Allah, karena bila hanya memenuhi kehendak untuk mencapai hasrat, walau tidak menderita didunia, namun sikap memenuhi kehendak hanya akan membawa pada pintu-pintu kesesatan dan membawa pada penyiksaan didalam neraka.
            Manusia di dunia melakukan kenikmatan berlebihan akan membawa pada penderitaan dan rasa sakit. Muncul penyakit jasmani juga terkadang muncul dari penyakit rohani. Manusia mendapat penyiksaan di dunia agar kembali pada jalan Allah dan menyadari kesalahanya. Namun bila manusia tidak menyadari malah semakin menjauhkan diri maka akan membawa pada pederitaan di akhir







BAB III
PENUTUP

  3.1  Kesimpulan
Cinta dan kasih adalah ungkapan perasaan yang didorong oleh suatu kehendak dan diwujudkan dalam bentuk tingkah laku disertai rasa tanggung jawab dan pertimbangan akal pikiran secara rasional. Ungkapan perasaan tersebut dapat ditujukan kepada sesama manusia, sesama makhluk ataupun  kepada Tuhan.
Penderitaan adalah menahan atau menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan baik secara lahir ataupun batin. Atau dapat dikatakan sebagai lawan kata dari kesenangan. Beberapa wujud dari penderitaan antara lain berupa kesedihan,siksaan,kekalutan mental, dan rasa sakit.
Dengan bertambahnya pengetahuan dan pemahaman mengenai cita, kasih dan penderitaan, kita sebagai manusia diharapkan dapat mengambil keputusan dalam hidup sesuai dengan norma-norma dan aspek keagamaan sehingga menghasilkan kehidupan yang selaras dan terhindar dari kesenjangan sosial.

      3.2  Saran
            Dengan diselesaikannya makalah ini penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca. Selanjutnya penulis juga mengharapkan kritik dan saran guna peningkatan kualitas dalam penulisan makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA

Haricahyono, Cheppy. Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: Usaha Nasional. 1987.
Mawardi. IAD-ISD-IBD. Bandung: Pustaka Setia. 2000.
Mustopo, M. Habib. Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: Usaha Nasional. 1983.
Lestari, Mega .”Manusia dan Cinta Kasih, Penderitaan,, Keadilan, Pandangan hidup dan Keindahan”. http://megamakalah.blogspot.co.id/2015/08/smt1-isbd-manusia-cinta-          kasih.html (1 Desember 2017)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Supply Chain Management

Pengertian Supply Chain Management (Manajemen Rantai Pasokan)   Kegiatan utama dalam industri manufaktur adalah mengkonversika...