|
|
|
Keterkaitan
antara Manusia, Cinta, Kasih, dan Penderitaan
|
|
Ilmu
Budaya Dasar
|
|
|
|
|
|
|
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan, manusia tidak pernah lepas dari hubungan
antar sesama makhluk-Nya. Sebagai esensinya manusia merupakan makhluk sosial. Manusia
saling dibutuhkan dan membutuhkan makhluk yang lain dalam kehidupannya.
Hubungan saling ketergantungan ini tentu disebabkan dan menyebabkan banyak hal,
beberapa diantaranya adalah manusia, cinta, kasih, dan penderitaan.
Cinta merupakan pengalaman yang sangat menarik dan pernah
dialami dalam hidup. Sangat disesali, pada umumnya kita masih bertanya-tanya apakah
cinta itu yang sebenarnya. Kebingungan mereka semakin bertambah ketika dunia
perfilman memperkenalkan arti cinta yang salah dimana penekanan akan cinta
selalu di titik beratkan pada perasaan dan cerita romantika dan terkadang dalam
kehidupan masyarakat cinta di titik beratkan pada seksualitas.
Kendati pun demikian, hampir setiap orang tidak pernah berpikir
tentang apa dan bagaimana cinta itu. Padahal berpikir tentang apa dan bagaimana
cinta itu, cinta dapat diibaratkan sebagai suatu seni yang
sebagaimana bentuk seni lainnya sangat memerlukan pengetahuan dan latihan untuk
bisa memahaminya.
Begitupun dengan kasih. Sering kali kita terkecoh bahkan
sulit untuk membedakan antara cinta dan kasih itu sendiri.
Setiap manusia yang hidup pasti pernah merasakan
penderitaan. Hidup tidaklah sesuai apa yang telah kita rencanakan. Tuhan
memiliki skenario tersendiri untuk mengukur sebarapa kuat iman setiap insan
manusia kepada-Nya.
Manusia sebagai makhluk yang berfikir dibekali rasa ingin
tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal, memahami dan
menjelaskan hal yang bersifat alamiah, sosial dan budaya. Manusia juga berusaha
untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Dari dorongan rasa ingin tahu dan usaha
untuk memahami masalah menyebabkan manusia dapat mengumpulkan berbagai pengetahuan.
Kurangnya pengetahuan setiap orang mengenai cinta, kasih, dan
penderitaan, membuat penulis ingin menjelaskan hal tersebut yang sangat penting
untuk diketahui secara seksama. Karena hal-hal tersebut sangat berkaitan dalam
kehidupan seseorang dalam bermasyarakat. Dan apabila orang tidak mengetahui
atau memahami hal tersebut maka akan menjadi sebuah kesenjangan yang nyata
dalam kehidupan seseorang saat mengambil suatu keputusan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Bagaimana hubungan antara Manusia dengan Cinta ?
1.2.2 Bagaimana hubungan antara Manusai dengan Kasih?
1.2.3 Bagaimana Mewujudkan Cinta dan Kasih?
1.2.4 Bagaimana hubungan antara Manusia dengan
Penderitaan?
1.3 TUJUAN PENULISAN
1.3.1 Memahami makna Cinta yang sebenarnya
1.3.2 Memahami makna Kasih
1.3.3 Mengetahui hubungan Manusia, Cinta, dan kasih
1.3.4 Memahami makna Menderitaan
1.2.5 Mengetahui hubungan Manusia dan Penderitaan
1.2.6 Untuk landasan dalam mengambil keputusan
dalam bermasyarakat
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Manusia dengan Cinta dan Kasih
Cinta, pengertiannya sama dengan kasih sayang sehingga
apabila seseorang mencintai orang lain, artinya orang tersebut berperasaan
kasih sayang terhadap suatu hal. Cinta memegang peranan yang penting dalam
kehidupan manusia, demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia
dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas, mengikuti
perintah-Nya, dan berpegang teguh pada syariat-Nya.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan J.S.
Purwodarminta, cinta adalah rasa sangat suka atau rasa sayang terhadap suatu
hal, ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata
kasih, artinya perasaan sayang atau cinta atau menaruh belas kasihan tentang
sesuatu. Dengan demikian, arti cinta dan kasih itu hampir sama sehingga kata
kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa cinta. Oleh karena itu, cinta kasih
dapat diartikan sebagai perasaan suka kepada seseorang yang disertai dengan
menaruh belas kasihan.
Walaupun cinta dan kasih mengandung arti yang hampir sama,
antara keduanya terdapat perbedaan, yaitu cinta lebih mengandung pengertian
tentang rasa yang mendalam, sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk
mengeluarkan rasa, mengarah pada orang atau yang dicintai. Dengan kata lain,
bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.
1. Erich Fromm (1983: 24-27) dalam bukunya Seni
Mencintai menyebutkan bahwa cinta itu terutama memberi, bukan
menerima, dan memberi merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan.
Yang paling penting dalam memberi adalah hal-hal yang sifatnya manusiawi, bukan
materi. Cinta selalu menyertakan unsur - unsur dasar tertentu, yaitu
pengasuhan, tanggung jawab, perhatian, dan pengenalan.
2. Sarlito W. Sarwono mengemukakan bahwa cinta itu
memiliki tiga unsur, yaitu ketertarikan, keintiman, dan kemesraan. Keterikatan
adalah perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas hanya untuk dia.
Keintiman yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukan
bahwa antara Anda dan dia sudah tidak ada jarak lagi sehingga
panggilan-panggilan formal seperti Bapak, Ibu, Saudara digantikan dengan
sekedar memanggil nama atau sebutan seperti sayang. Sedangkan kemesraan adalah
adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen jika jauh dan lama tidak
bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang. Ketiga unsur
cinta tersebut sama kuatnya, jika salah satu unsur cinta itu tidak ada maka
cinta itu tidak sempurna atau dapat disebut bukan cinta.
Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam
berbagai bentuk, mulai dari seseorang yang mencintai dirinya, istrinya,
anaknya, hartanya dan Tuhannya. Bentuk cinta ini melekat pada diri manusia yang
kadarnya bisa berubah menurut situasi dan kondisi yang mempengaruhinya.
Cinta dapat tak terduga muncul dan hilang begitu saja, atau
terus tumbuh seperti cintanya orang tua terhadap anaknya sejak dilahirkan.
Cinta tidak mudah diterangkan dan diilustrasikan dengan kata-kata. Ia memiliki
daya luar biasa yang melekat dengan kuat pada diri manusia. Cinta dapat
dilukiskan dengan memberi, bukan meminta sebagai aktualisasi cintanya terhadap
orang lain. Berbagai bentuk cinta dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Cinta diri
Secara naluri manusia mencintai dirinya
sendiri. Sebaliknya, manusia membenci segala sesuatu yang mengganggu dirinya.
Di dalam Al –Qur’an telah mengungkapkan cinta alamiah manusia terhadap
dirinya sendiri ini, kecenderungannya untuk menuntut segala sesuatu yang
bermanfaat dan berguna bagi dirinya, dan menghindari dari segala sesuatu yang
membahayakan keselamatan dirinya, melalui ucapan Nabi Muhammad SAW, bahwa
seandainya beliau mengetahui hal-hal gaib, tentu beliau akan memperbanyak
hal-hal yang baik bagi dirinya dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan.
“Diantara gejala yang menunjukkan
kecintaan manusia terhadap dirinya sendiri ialah kecintaannya yang sangat
terhadap harta, yang dapat merealisasikan semua keinginannya dan memudahkan
baginya segala sarana untuk mencapai kesenangan dan kemewahan hidup.”
(QS,al-Adiyat, 100:8)
“Diantara gejala lain yang menunjukkan
kecintaan manusia pada dirinya sendiri ialah permohonannya yang terus menerus
agar dikaruniai harta, kesehatan, dan berbagai kebaikan dan kenikmatan hidup
lainnya. Dan apabila tertimpa bencana, keburukan, atau kemiskinan, ia merasa
putus asa dan ia mengira tidak akan bisa memperoleh karunia lagi,”(QS,Fushilat,
41:49)
Namun hendaknya cinta manusia pada
dirinya jangan terlalu berlebih-lebihan dan melewati batas. Cinta kepada diri
sendiri perlu diimbangi pula dengan cinta terhadap orang lain untuk berbuat
baik. Inilah yang dimaksud dengan cinta diri yang ideal.
b. Cinta kepada sesama manusia
Motivasi seseorang mencintai sesama
manusia, menurut presepsi sosiologis disebabkan karena manusia itu merupakan
makhluk sosial. Menurut presepsi agama, mencintai sesama manusia itu merupakan
kewajiban. Demikian pula adanya perbedaan warna kulit, ras, etnis, atau
perbedaan fisik manusia. Bahkan dalam agama, sesama manusia dianggap masih
saudara (saudara seiman). Dalam pepatah sehari-hari sering dikatakan “tak kenal maka
tak sayang”, makna kenal di sini dilanjutkan dengan saling menyayangi dan
mencintai antar sesama umat manusia. Al-Qur’an juga menyeru kepada orang-orang
yang beriman agar saling mencintai seperti cinta mereka pada diri mereka
sendiri. Dalam seruan itu sesungguhnya terkandung pengarahan kepada mukmin agar
tidak berlebih-lebihan dalam mencintai diri sendiri
c. Cinta seksual
Cinta erat kaitannya dengan dorongan
seksual, cinta seksual merupakan bagian dari naluri manusia yang dapat
melestarikan kasih sayang, keserasian, dan kerja sama antara suami dan istri.
Seks merupakan faktor yang primer bagi kelangsungan hidup keluarga.
“Dan
diantara tanda-tanda kekuasanNya ialah Dia yang menciptakan untukmu istri-istri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung, dan merasa tentram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi yang berpikir.” (QS,Ar-Rum,
30:12)
Dorongan
seksual melakukan suatu fungsi penting yaitu melahirkan keturunan demi
kelangsungan jenis.
d. Cinta
Keibuan
Kasih
sayang yang bersumber dari cinta keibuan, yang paling asli dan yang terdapat
pada diri seorang ibu terhadap anaknya sendiri. Ibu dan anak terjalin suatu
ikatan fisiologi. Seorang ibu akan memelihara anaknya dengan hati-hati penuh
kasih sayang dan naluri alami seorang ibu.
e. Cinta kebapakan
Cinta ibu kepada anaknya atau dorongan keibuan. Dorongan
kebapakan tidak seperti dorongan keibuan, tetapi dorongan psikis. Hal ini
terlihat dalam cinta seorang ayah terhadap anaknya karena ia merupakan sumber
kesenangan dan kegembiraan dalam hidupnya, sumber kekuatan dan kebanggaan,dan
merupakan faktor penting bagi kelangsungan peran bapak dalam kehidupan. Cinta
kebapakan dalam Al-Qur’an diisyaratkan dalam kisah Nabi Nuh as. Betapa cintanya
ia kepada anaknya, tampak jelas ketika ia memanggilnya dengan penuh rasa
cinta,kasih sayang, belas kasihan, untuk naik perahu agar tidak tenggelam
ditelan ombak :
“…Dan Nuh memanggil anaknya – sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai ..anakku naiklah (kekapal)
bersama kami dan janganlah kamu berada bersama-sama
orang-orang yang kafir.” (QS,
Yusuf, 12:84)
Biasanya
cinta kebapakan nampak dalam perhatian seorang bapak kepada anak-anaknya,
asuhan, nasehat, dan pengarahan yang diberikan, demi kebaikan dan kepentingan
mereka sendiri.
f. Cinta kepada Allah SWT
Puncak cinta manusia yang paling bening,
jernih dan spiritual ialah cinta dan kerinduannya kepada Allah. Tidak hanya
sholat, pujian dan doanya ditujukan kepada Allah, tetapi semua tindakan dan
tingkah lakunya ditujukan kepada Allah dengan mengharapkan penerimaan
ridla-Nya. Cinta seorang mukmin kepada Allah akan membuat seseorang menjadi mencintai
sesama manusia, hewan, semua makhluk Allah, dan seluruh alam semesta. Hal ini
terjadi karena semua yang wujud dipandang sebagai manifestasi Tuhannya.
“Katakanlah : “Jika kamu
(benar-benar)mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (QS
Ali Imran, 3:31)
Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada
Allah akan membuat cinta itu menjasi kekuatan pendorong yang mengarahkannya
dalam kehidupannya dan menundukkan semua bentuk kecintaan lainnya. Cinta ini
pun juga akan membuatnya menjadi seorang yang cinta pada sesama manusia, hewan,
semua makhluk Allah dan seluruh alam semesta.
g. Cinta kepada Rasul (Nabi Muhammad
SAW)
Cinta kepada rasul merupakan peringkat kedua
setelah cinta kepada Allah SWT. Hal ini disebabkan karena rasul bagi kaum
muslimin merupakan contoh ideal yang sempurna baik dalam tingkah laku, moral,
maupun berbagai sifat luhur lainnya dan juga merupakan suri teladan yang
mengajarkan Al-Qur’an dan kebijaksanaan. Nabi Muhammad SAW telah menanggung
derita dan berjuang dengan penuh tantangan sampai tegaknya agama Islam.
h. Cinta kepada orang tua
Cinta kepada kedua orangtua dalam ajaran
agama Islam sangat mendasar, menentukan ridha tidaknya Tuhan kepada kita
sebagai anaknya.
2.2 Mewujudkan
Cinta Kasih
Untuk
dapat mewujudkan cinta dan kasih dalam kehidupan dengan tentram damai dan
bahagia dapat dengan cara :
a. Cara mewujudkan cinta pada diri
sendiri
Dapat
dilakukan dengan menjaga dirinya sendiri, sehingga kebutuhan jasmani dan rohani
dirinya sendiri terpenuhi secara wajar. Contohnya mandi, menyisir rambut,
memaka wangi- wangian, mengenakan baju yang sopan tidak melanggar adat atau
norma yang ada.
b. Cara mewujudkan cinta pada sesama
manusia
Dapat
dilakukan dengan perbuatan yang bersifat sosial dan kemanusian. Contohnya
saling tolong menolong, kerja bakti, saling tepo seliro, Jean Henry Dunant (
1882-1910) seorang bankir dan penulis berkebangsaan Swiss yang atas suka
relanya menolong setiap orang yang menderita luka-luka dalam pertempuran
Solferino (1859) mendirikan Palang Merah International (1863).
c. Cara mewujudkan cinta seksual
Dapat
dilakukan apabila dilandasi atas dasar cinta kasih yang bertanggung jawab dan
tidak melanggar adat atau norma yang ada. Contohnya cinta erotis seorang lelaki
terhadap perempuan yang di sudah di ikat pernikahan yang di dasari percintaan.
d. Cara mewujudkan cinta keibuan
Dapat
dilakukan dengan dilandasi kasih sayang ibu yang tak terhingga terhadap anaknya
dari sejak dikandung, melahirkan, dan mengurus sampai menikahkan dengan tanpa
pamrih sedikitpun dan doanya yang selalu menginginkan dan melihat anaknya
bahagia serta di jauhkan dari segala kesulitan.
e. Cara
mewujudkan cinta kebapakan
Dapat
dilakukan dengan dilandasi rasa menghormati, kasih sayang kepada anaknya dengan
cara mencari nafkah, memperhatikan perkembangan anak, mengetahui apa yang
diperlukan oleh anaknya.
f. Cara
mewujudkan cinta kepada Allah
Dapat
dilakukan dengan dilandasi cinta yang teramat sangat dan meniadakan Tuhan
selain Allah dengan beraqidah yang kokoh dan bertaqwa atau menjalankan segala
perintah dan menjauhi segala larangan yang sudah di tentukan Nya.
g. Cara mewujudkan cinta kepada Rasul
Dapat
dilandasi dengan mencontoh suri teladan yang baik yang ada pada diri rasul
yaitu sidiq, tablig, amanah, dan fatonah yang di laksanakan setiap saat selama
masih diberi kehidupan.
h. Cara
mewujudkan cinta kepada orang tua
2.3 Manusia dengan Penderitaan
2.3.1 Pengertian penderitaan
Kata penderitaan berasal dari kata
“derita” (dhra dalam bahasa Sansekerta), artinya: menahan atau
menanggung sesuatu yang tidak menyenangkan, baik itu secara lahir maupun batin.
Atau dapat dikatakan sebagai lawan kata dari kesenangan. Penderitaan tidak
pernah dipisahkan dari kehidupan manusia yang dapat berupa keluh kesah,
kesengsaraan, kelaparan, kepanasan,kelelahan dan lain-lain. Penderitaan ini
bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja.
a. Penderitaan sebagai fenomena
universal
Penderitaan sebagai fenomena universal
tidak mengenal ruang dan waktu, dapat terjadi pada kehidupan masa lalu, kini,
dan masa yang akan datang. Selain itu juga dapat menimpa siapapun.
b. Penderitaan sebagai anak penguasaan
Penderitaan yang terjadi tidak jarang
justru disebabkan oleh faktor manusia sendiri. Penderitaan manusia yang satu
tidak bisa dilepaskan dari ulah manusia lainnya. Ini semua sulit terbantahkan,
karena penderitaan itu pada dasarnya merupakan anak penguasaan.
Berikut
ini hal-hal yang berkaitan dengan penderitaan:
a. Siksaan
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan
badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani. Akibat
siksaan yang dialami seseorang, timbulah penderitaan. Siksaan yang sifatnya
psikis bisa berupa : kebimbangan, kesepian, ketakutan. Ketakutan yang
berlebih-lebihan yang tidak pada tempatnya disebut phobia.banyak sebab yang
menjadikan seseorang merasa ketakutan antara lain : claustrophobia dan
agoraphobia, gamang, ketakutan, kesakitan, kegagalan.
b. Rasa Sakit
Rasa sakit adalah rasa yang tidak
menyenangkan secara mental,fisik, dan emosi serta mengingatkan kepada luka bagi
si penderita. Penderitaan yang berupa rasa sakit dan siksaan merupakan satu
rangkaian peristiwa yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Karena adanya siksaan
dan rasa sakit membuat orang menjadi menderita. Dalam pengalaman sehari-hari
manusia dikenal adanya tiga macam rasa sakit, yaitu sakit hati, syaraf atau
jiwa, dan sakit fisik.
c.
Kekalutan Mental
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi
dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental
adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan
yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang
wajar.
d. Neraka
Jika manusia mengingat akan dosa maka
terbayanglah neraka, sehingga terlintas dalam alam pikiran manusia adanya
siksaan, rasa sakit, dan penderitaan yang hebat. Hal ini menandakan bahwa
antara neraka, siksaan, rasa sakit, dan penderitaan mempunyai hubungan sebab-akibat
yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Manusia masuk neraka karena dosa, maka jika
berbicara tentang dosa berarti berkaitan juga dengan kesalahan.
2.3.2
Penyebab munculnya penderitaan
Penderitaan dapat muncul karena ketidakharmonisan antara elemen
satu dengan yang lainnya. Dalam kasus sehari-hari, misalkan saja dalam hubungan
dalam bermasyarakat, ada kalanya didalam bermasyarakat terdapat perbedaan
pendapat yang dapat menimbulkan perselisihan diantara satu dengan yang lainnya,
hal ini bisa saja mengakibatkan timbulnya rasa dengki, marah, bahkan saling
menuduh atau menjelek-jelekan. dari sinilah penderitaan muncul karena perbuatan
saling tidak menyukai tersebut. dalam hal ini, penderitaan yang dialami adalah
penderitaan secara batin karena terdapat rasa sakit hati apabila ada seseorang
yang menjelek-jelekan bahkan rasa itu bisa saja semakin sakit apabila sudah
terjadi pertengkaran yang membuat hubungan didalam masyarakat sudah tidak ada
rasa nyaman dan aman.
2.3.3
Hubungan manusia dangan penderitaan
Allah adalah Sang Pencipta segala
sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dialah yang maha kuasa atas segala yang
ada isi jagad raya ini. Allah menciptakan mahluk yang bernyawa dan tak
bernyawa. Allah tetap kekal dan tak pernah terikat dengan penderitaan.
Mahluk bernyawa memiliki sifat ingin
tepenuhi segala hasrat dan keinginannya. Manusia selalu membutuhkan pembaharuan
dalam dirinya, seperti memerlukan bahan pangan untuk kelangsungan hidup,
membutuh air dan udara, membutuhkan teman, mebutuhkan pasangan, dan membutuhkan
penyegaran rohani berupa ketenangan. Apabila tidak terpenuhi, maka manusia akan
mengalami penderitaan. Dan bila sengaja tidak di penuhi manusia telah melakukan
penganiayaan. Namun bila hasrat menjadi landasan untuk selalu dipenuhi akan
membawa manusia pada kesesatan yang berujung pada penderitaan kekal di akhirat.
Manusia diciptakan sebagai mahluk
yang paling mulia namun manusia tidak dapat berdiri sendiri secara mutlak.
Manusia perlu menjaga dirinya dan selalu mengharapkan perlindungan kepada
penciptanya. Manusia kadang kala mengalami kesulitan dalam penghidupanya, dan
terkadang sakit jasmaninya akibat tidak dapat memenuhi penghidupannya.
Manusia memerlukan rasa aman agar terhidar
dari penyiksaan. Karena bila tidak dapat memenuhi rasa aman manusia akan
mengalami rasa sakit. Manusia selau berusaha memahami kehendak Allah, karena
bila hanya memenuhi kehendak untuk mencapai hasrat, walau tidak menderita
didunia, namun sikap memenuhi kehendak hanya akan membawa pada pintu-pintu kesesatan
dan membawa pada penyiksaan didalam neraka.
Manusia di dunia melakukan
kenikmatan berlebihan akan membawa pada penderitaan dan rasa sakit. Muncul
penyakit jasmani juga terkadang muncul dari penyakit rohani. Manusia mendapat
penyiksaan di dunia agar kembali pada jalan Allah dan menyadari kesalahanya.
Namun bila manusia tidak menyadari malah semakin menjauhkan diri maka akan membawa
pada pederitaan di akhir
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Cinta dan kasih adalah ungkapan perasaan yang
didorong oleh suatu kehendak dan diwujudkan dalam bentuk tingkah laku disertai
rasa tanggung jawab dan pertimbangan akal pikiran secara rasional. Ungkapan perasaan tersebut dapat
ditujukan kepada sesama manusia, sesama makhluk ataupun kepada
Tuhan.
Penderitaan adalah menahan atau menanggung sesuatu yang tidak
menyenangkan baik secara lahir ataupun batin. Atau
dapat dikatakan sebagai lawan kata dari kesenangan. Beberapa wujud dari
penderitaan antara lain berupa kesedihan,siksaan,kekalutan mental, dan rasa
sakit.
Dengan bertambahnya pengetahuan dan pemahaman
mengenai cita, kasih dan penderitaan, kita sebagai manusia diharapkan dapat
mengambil keputusan dalam hidup sesuai dengan norma-norma dan aspek keagamaan
sehingga menghasilkan kehidupan yang selaras dan terhindar dari kesenjangan
sosial.
3.2 Saran
Dengan diselesaikannya makalah ini penulis berharap
makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca. Selanjutnya penulis
juga mengharapkan kritik dan saran guna peningkatan kualitas dalam penulisan
makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Haricahyono,
Cheppy. Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: Usaha Nasional. 1987.
Mawardi. IAD-ISD-IBD. Bandung:
Pustaka Setia. 2000.
Mustopo, M. Habib. Ilmu
Budaya Dasar. Surabaya: Usaha Nasional. 1983.
Lestari, Mega .”Manusia dan Cinta
Kasih, Penderitaan,, Keadilan, Pandangan hidup dan Keindahan”. http://megamakalah.blogspot.co.id/2015/08/smt1-isbd-manusia-cinta- kasih.html (1 Desember 2017)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar