Selasa, 10 Juli 2018

Dampak Pembangunan Terhadap Kemiskinan


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
     Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problem yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat di negara-negara berkembang. Masalah kemiskinan menuntut adanya suatu upaya pemecahan masalah secara terencana, terintegrasi dan efektif dalam waktu yang singkat menyeluruh. Upaya pemecahan masalah kemiskinan sebagai upaya untuk mempercepat proses pembangunan sedang berlangsung.
     Istilah kemiskinan bukan hal yang asing dalam kehidupan kita. Kemiskinan yang dimaksud adalah kemiskinan ditinjau dari segi materi (ekonomi). Dari kegagalan dalam mengurangi kemiskinan, pengangguran,dan ketimpangan pendapatan secara berarti, maka para ahli kemudian bergeser dari penciptaan lapangan kerja yang memadai, penghapusan kemiskinan, dan akhirnya penyediaan barang-barang dan jasa kebutuhan dasar bagi seluruh penduduk.
     Pemeruntah tengah gencarnya melakukan pembangunan di berbagai sektor, baik di sektor infrastruktur, ekonomi, maupun pendidikan. Hal itu dilakukan dengan bertujuan mengurangi kesenjangan sosial termasuk kemiskinan  dan pemerataan akses hajat masyarakat yang berkeadilan sesuai amanat UUD 1945 dan Pancasila.
Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata, materil, dan spiritual berdasarkan pancasila. Bahwa hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah tentu pendekatan dan strategi pembangunan hendaknya menempatkan manusia sebagai pusat interaksi kegiatan pembangunan spiuritual maupun material.

1.2 Tujuan
     Tujuan dari dibuatnya makalah ini untuk mengetahui dampak pembangunan terhadap kemiskinan.
1.3 Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan pembangunan dan kemiskinan?
b. Bagaimana dampak – dampak pembangunan ?
c. Apa saja yang menjadi indikator adanya  pembangunan?
d. Sebutkan upaya-upaya mengatasi kemiskinan?
e. Apa hubungan pembangunan dengan kemiskinan?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Pembangunan Dan Kemiskinan
       Menurut para sarjana sains sosial dan kemanusiaan, pembangunan merupakan bagian dari proses perubahan sosial yang sifatnya lebih menyeluruh. Pembangunan dibagi kepada dua kategori besar. Pertama, pembangunan yang direncanakan, dan kedua pembangunan yang tidak direncanakan.
     Jika kita lihat dari segi kebudayaan, pembangunan adalah usaha sadar untuk menciptakan kondisi hidup manusia yang lebih baik. Menciptakan lingkungan hidup yang lebih seras. Pembangunan adalah suatu intervensi manusia terhadap alam lingkungannya, baik lingkungan alam fisik, maupun lingkungan sosial budaya.
Proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi, social, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro (nasional) dan mikro (community/group). Hal terpenting dari adanya pembangunan adalah munculnya kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.

Dalam proses pembanguan terjadi suatu proses perubahan yang mengarah pada perbaikan, para ahli manajemen pembangunan menganggapnya sebagai suatu proses pembangunan dimana terjadi proses perubahan dari kehidupan tradisional menjadi modern, yang ditandai dengan penggunaan alat-alat tradisional digantikan dengan alat-alat tradisional.
               
Sedangkan kemiskinan merupakan kurangnya pendapatan suatu individu untuk memenuhi kebutuhan primer. Dikatakan berada dibawah garis kemiskinan apabila pendapatan tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain. (Emil Salim, 1982). Kemiskinan merupakan problematika sentral dari pembanguan bangsa, sebagai inspirasi dasar dan perjuangan akan kemerdekaan bangsa, dan motivasi fundamental dari cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur.
2.2.  Dampak-Dampak Adanya Pembangunan
Pembangunan melibatkan usaha  sadar dan komitmen manusia merancang perubahan dalam bermasyarakat. Tindakan ini sering diungkapkan sebagai sosial engineering (mesin sosial), yang melibatkan banyak pihak untuk menjalankan perencanaan, pelaksanaan, penerima dan terpenting sekali pembiayaannya. Dalam konteks sebuah masyarakat, tindakan merancang pembangunan menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, masing-masing dengan bentuk sumbangan yang tertentu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan. Ahli politik, anggota professional, para akademisi, pengusaha, pakar teknologi, kaum tani, kelas pekerja dan berbagai-bagai golongan lain termasuk rakyat terbanyak, semuanya sama-sama terlibat dalam proses pembangunan.
Pembangunan terkadang digunakan dalam pengertian yang sempit hanya sebagai industralisasi atau pemodernan. Bagaimanapun dalam makna yang luas ia bermaksud meningkatkan derajat manusia dalam sebuah masyarakat tertentu. Pembangunan adalah upaya untuk meningkatkan taraf kehidupan semua masyarakat dalam segala bidang.
Diakui secara umum bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses pembangunan suatu bangsa. Terlebih lagi jika bangsa itu sedang membentuk watak dan kepribadiannya yang lebih serasi dengan tantangan zamannya.
Manusia sebagai makhluk berbudaya, dan sebagai sumber daya dalam pembangunan. Hal itu berarti bahwa pembangunan seharusnya mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bangsa. Menumbuhkan sikap hidup yang seimbang dan berkepribadian utuh. Memiliki moralitas serta integritas sosial yang tinggi. Manusia yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pembangunan telah membawa perubahan dalam masyarakat. Perubahan tersebut seperti pergeseran sistem nilai budaya, penyikapan yang berubah anggota masyarakat terhadap nilai-nilai budaya. Pembangunan telah menimbulkan mobilitas sosial, yang diikuti oleh hubungan antar aksi yang bergeser dalam kelompok-kelompok masyarakat. Sementara itu terjadi pula penyesuaian dalam hubungan antar anggota masyarakat. Dapat dipahami apabila pergeseran nilai-nilai itu membawa akibat jauh dalam kehidupan kita sebagai bangsa.
2.3.  Indikator-Indikator Kemiskinan
Menurut (Emil Salim: 1928) yang dimaksud dengan kemiskinan adalah suatu keadaan yang dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok.Atau dengan istilah lain kemiskinan itu merupakan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok, sehingga mengalami keresahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langkah hidupnya.
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada dibawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain. (Emil Salim, 1982). Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai inspirasi dasar dan perjuangan akan kemerdekaan bangsa, dan motivasi fundamental dari cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur. Adapun indikator-indikator kemiskinan antara lain:
  1. Pendidikan rendah
Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupanya. Keterbatasan pendidikan/ keterampilan yang dimiliki menyebabkan keterbatasan kemampuan untuk masuk dalam dunia kerja. Atas dasar kenyataan tersebut suatu individu dikatakan miskin karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
2.  Rasa malas
Sikap malas merupakan suatu masalah yang cukup memprihatinkan karena masalah ini menyangkut mentalitas dan kepribadian seseorang. Adanya sikap malas ini seseorang bersikap acuh tak acuh dan tidak bergairah untuk bekerja. Cenderung untuk menggantungkan hidupnya pada orang lain.
3. Keterbatasan sumberdaya alam
Kemiskinan yang terjadi dalam suatu masyarakat jika sumber alamnya tidak lagi memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka. Sering dikatakan oleh para ahli, bahwa masyarakat itu miskin karena memang dasarnya (alamiah miskin).
4. Terbatasnya lapangan kerja
Secara ideal banyak orang mengatakan bahwa seseorang/ masyarakat harus mampu menciptakan lapangan kerja baru. Tetapi secara faktual hal tersebut kecil kemungkinannya, karena adanya keterbatasan kemampuan seseorang baik yang berupa skill dan juga modal.
5.   Keterbatasan modal
Keterbatasan modal adalah sebuah kenyataan yang ada di negara-negara yang sedang berkembang, kenyataan tersebut membawa kemiskinan pada sebagian besar masyarakat tersebut. Seorang miskin sebab mereka tidak mempunyai modal untuk melengkapi alat ataupun bahan dalam menerapkan keterampilan yang mereka miliki dengan suatu tujuan untuk memperoleh penghasilan. Keterbatasan modal bagi negara-negara yang sedang berkembang dapat diibaratkan sebagai suatu lingkaran yang tak berujung pangkal baik dari segi permintaaan modal maupuin dari segi penawaran akan modal.
6. Beban Keluarga
Semakin banyak anggota keluarga akan semakin banyak pula tuntutan/ beban untuk hidup yang harus dipenuhi. Seseorang yang mempunyai anggota keluarga banyak apabila tidak diimbangi dengan usaha peningkatan pendapatan sudah pasti akan menimbulkan kemiskinan karena mereka memang berangkat dari kemiskinan.
2.4. Usaha Mengatasi Kemiskinan
Dari kegagalan kebijaksanaan konvesional mengenai pertumbuhan ekonomi di banyak Negara berkembang dalam mengurangi kemiskinan, pengangguran dan disparitas (ketimpangan) pendapatan secara berarti telah memaksa baik para perencana ekonomi dan teknokrat maupun para peneliti ekonomi untuk kembali mempelajari secara sunguh-sunguh kebijaksanaan tersebut,serta mendorong mereka untuk mempelajari alternatif-alternatif yang realistis bagi kebijaksanaan pertumbuhan ekonomi yang konvensional. Dalam hal ini pendekatan kebutuhan dasar dalam perencanaan pembangunan merupakan hasil yang logis dari suatu proses reorientasi yang panjang dalam pemikiran tentang pembangunan.
Dari hasil-hasil penelitian kemudian pusat perhatian para ahli lambat laun mulai bergeser dari tekanan pada penciptaan lapangan kerja yang memadai ke penghapusan kemiskinan, dan akhirnya ke penyediaan barang-barang dan jasa-jasa kebutuhan dasar bagi seluruh penduduk, yang berupa dua perangkat, yaitu:
a)       Perangkap kebutuhan konsumsi perorangan akan pangan ,sandang , dan pemukiman.
b)      Perangkap yang mencakup penyediaan jasa umum dasar ,seperti fasilitas kesehatan,pendidikan ,saluran air minum ,pengangkutan ,dan kebudayaan.
Di samping kedua perangkat tersebut ,kebutuhan dasar atau kebutuhan dasar manusiawi kadang-kadang juga digunakan untuk mencakup tiga sasaran lain, yaitu :
1)      Hak atas pekerjaan produktif dan yang memberikan imbalan yang layak, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap rumah tangga atau perorangan .
2)      Prasarana yang mampu menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa yang dibutuhkan untuk memnuhi kebutuhan dasar penduduk.
3)      Partisipasi seluruh penduduk ,baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam pelaksanaan proyek-proyek yang berhubungan dengan penyediaan barang-barang dan jasa-jasa kebutuhan dasar.
Pengalaman dari negara-negara Asia Timur, yaitu Korea, Taiwan, Jepang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat dengan disertai pemerataan hasil-hasil pembangunan dapat tercapai. Karena di negara-negara tersebut program pembangunan pedesaan  sangat diutamakan.
2.5.      Pembangunan dan Kemiskinan
     Di Indonesia pola perkembangan pembangunan juga mengikuti pendapatan yang dikemukakan Kuznets, artinya golongan miskin kurang terjamah oleh hasil-hasil pertumbuhan ekonomi. Mengapa mereka tidak terangkat, padahal pemerintah telah mengambil kebijaksanaan penyebaran proyek-proyek ke daerah-daerah ke desa-desa.
Bila diteliti golongan-golongan miskin yang tidak terjamah oleh hasil-hasil pembangunan karena:
a)      Ketimpangan dalam peningkatan pendidikan. Selama belum ada kewajiban belajar golongan miskin tidak akan mampu berpartisipasi mengenyam peningkatan anggaran pendidikan.
b)      Ketidakmerataan kemampuan untuk berpartisipasi. Untuk berpartisipasi diperlukan tingkat pendidikan, keterampilan, relasi, dan sebagainya. Golongan miskin tidak memilikinya .
c)      Ketidakmerataan pemilikan alat-alat produksi.Golongan miskin tidak memiliki alat-alat produksi, penghasilannya untuk makan saja sudah susah, sehingga tidak mungkin untuk membentuk modal.
d)     Ketidakmerataan kesempatan terhadap modal dan kredit ada. Modal dan kredit pemberiannya menghendaki syarat-syarat tertentu dan golongan miskin tidak mungkin memenuhi persyaratannya.
e)      Ketidakmerataan menduduki jabatan-jabatan. Untuk mendapat pekerjaan yang memberi makan pada keluarga saja susah, apalagi menduduki jabatan-jabatan yang sering memerlukan relasi tertentu dan persyaratan tertentu.
f)       Ketidakmerataan mempengaruhi pasaran. Karena miskin dan pendidikannya rendah, maka tidak mungkin golongan miskin dapat mempengaruhi pasaran .
g)      Ketidakmerataan kemampuan menghindari musibah misalnya penyakit, kecelakaan dan ketidak beruntungan lainnya. Bagi golongan miskin dibutuhkan bantuan untuk dapat mengatasi musibah tersebut. Mengharapkan diri mereka sendiri dapat mengangakat dirinya tanpa pertolongan, sukar dipastikan.
h)      Laju pertumbuhan penduduk lebih memberatkan golongan miskin. Dengan jumlah keluarga besar, mereka sulit dapat menyekolahkan, memberi makan, dan pakaian secukupnya. Hanya keluarga yang kaya atau berpenghasilan besar sajalah yang mampu.
Dapat dipastikan bahwa golongan berpenghasilan rendah, karena kurang terjamah pendidikan, tidak memiliki sarana-sarana, misalnya kredit, modal, alat-alat produksi, relasi dan sebagainya, tidak akan mampu berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi dan menikmati pembagian hasil-hasilnya tanpa adanya kebijaksanaan khusus yang ditujuakan untuk mengangkat mereka.
BAB III
KESIMPULAN
            Kemiskinan merupakan suatu kondisi dimana suatu individu tidak dapat memenuhi kebutuhan primernya. Dengan kata lain, kemiskinan merupakan ketidak mampuan memenuhi kebutuhan pokok, sehingga ia mengalami keresahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langkah hidupnya (Siswanto, 1998).Kemiskinan bagaikan penyakit yang diberantas. Namun upaya memberantas tidak selalu membawa hasil karena masalah memang kompleks.
            Dalam mengatasi kemiskinan, kita harus melihat konteks masalahnya. Kemiskinan timbul dari berbagai faktor yang setiap faktornya memerlukan penanganan khusus.
Pembangunan membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungan hidupnya. Serentak dengan laju pembangunan, terjadi pula dinamika masyarakat. Terjadi perubahan sikap terhadap nilai-nilai budaya yang sudah ada. Terjadilah pergeseran sistem nilai budaya yang membawa perubahan pula dalam hubungan interaksi manusia dalam masyarakatnya. Walaupun kata pembangunan memiliki makna yang berbeda-beda, namun satu makna yang diterima oleh masyarakat umum adalah perubahan.


Daftar Pustaka
  • Ahmadi, Abu.1988. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Rineka Cipta
  • Soelaeman,Munandar.1987. Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: Eresco


Supply Chain Management

Pengertian Supply Chain Management (Manajemen Rantai Pasokan)   Kegiatan utama dalam industri manufaktur adalah mengkonversika...